Real Madrid 0-2 Barcelona: Plan B Barcelona

Apakah Barcelona memiliki plan B?

Pep Guardiola selalu menampilkan formasi yang sama di setiap pertandingannya. Pada laga el clasico kali ini, di menempatkan Puyol, yang telah kembali dari cedera dan masa hukuman akumulasi kartu, menjadi bek kiri, mengisis posisi yang ditinggalkan Maxwell, Adriano dan Abidal, semua karena cedera. Di posisi bek tengah, Pep memasang Mascherano menemani Pique, sementara Seydou Keita yang main menggantikan Iniesta, yang absen karena cedera, bersama Busquets dan Xavi. Trio Pedro-Messi-David Villa masih mengisi lini depan Barcelona.

Sementara itu, Mourinho tidak dipusingkan dengan pemilihan pemain kecuali dengan absennya Khedira karena cedera dan Carvalho yang menjalani masa hukuman akumulasi kartu. Posisi Khedira diisi dengan Lassana Diarra dan posisi Carvalho diisi oleh Raul Albiol. Pepe tetap dipasang sebagai pemain jangkar di tengah demi meredam kreatifitas Xavi dalam membangun serangan. Sementara C. Ronaldo-Ozil-Di Maria, seperti el clasico edisi final Copa Del Rey, mengisi lini depan Real Madrid.

Pertandingan di mulai dengan sangat lamban cenderung membosankan. Barcelona, seperti biasa, menguasai possession ball. Namun mereka tertahan hanya sampai lini tengah Real Madrid karena Pepe, Lass dan Alonso dengan efektif meredam Xavi, Keita dan Busquets.

Real Madrid sengaja membiarkan Barcelona memainkan bola lebih lama dan menunggu untuk melakukan serangan balik, namu Pep sengaja memerintahkan Dani Alves dan Puyol untuk tidak ikut naik membantu serangan, hasilnya Di Maria dan Ozil yang bermain di sisi lapangan tidak dapat melakukan serangan balik yang diharapkan.

Menempatkan Pepe dan Lass di tengah sebagai perebut bola membuat Alonso bermain lebih ke dalam untuk menerima bola untuk dengan cepat mengirimkan ke depan untuk melakukan serangan balik, tapi Alonso tidak berada dalam performa terbaiknya, sering kali umpan panjangnya tidak pas menemukan rekannya di depan.

Barcelona menguasai possession dengan perbandingan 71% berbanding 29% untuk Real Madrid.

David Villa, yang di laga kali ini dipasang di sebelah kanan, tanpa support dari Dani Alves ditugaskan melakukan tusukan-tusukan berbahaya dari sisi kiri pertahanan Real Madrid, dia berhasil. Beberapa kali melepaskan tendangan keras mengarah ke gawang namun masih selalu gagal menembus Casillas.

Ada tiga masalah yang dihadapi Barcelona di sini. Pertama, Xavi selalu dijaga ketat. Kedua, Iniesta tidak bermain. Ketiga, Barcelona hanya berbahaya, pada saat final Copa, ketika David Villa dan Pedro bermain melebar, yang membuat usaha mereka tidak terlalu mengancam gawang, sementara Messi yang bermain terlalu ke dalam.

Barcelona pada prakteknya tidak bermain dengan penyerang tengah, karena, itu tadi, Messi bermain lebih ke tengah. Madrid yang memasang 3 holding midfilders di depan beknya, membuat Barcelona tidak dapat men

cetak gol dengan tendangan jarak jauh ataupun permainan satu-dua a la Barca di depan kotak penalti. Ada tiga cara untuk Barcelona agar bisa membobol gawang Madrid: Pertama, dengan David Villa dan Pedro yang melakukan cutting in menuju jantung pertahanan Madrid, yang mana Villa hampir membobol gawang Madrid sebelum ditepis Casillas. Kedua, dengan bantuan lini kedua, seperti kesempatan yang didapatkan Xavi namun juga masih gagal. Ketiga, Lionel Messi melakukan solo run dengan mengelabui pemain-pemain Madrid, yang mana tidak dia lakukan di babak pertama.

Untuk Real Madrid, beberapa kesempatan mereka dapatkan dari tendangan keras C. Ronaldo tapi selalu gagal di tangan Victor Valdes.

Di babak kedua, Mourinho menggantikan Ozil, yang bermain kurang impresif, dengan Adebayor, dengan harapan Adebayor bisa menahan bola lebih lama sementara kawan-kawannya maju untuk membantu serangan. Tapi itu tidak bekerja dengan baik. Adebayor hanya efektif di awal-awal babak kedua saja, tapi sisanya, nasibnya sama sepert C. Ronaldo, tidak bisa lama-lama menguasai bola.

Momen kunci dari hasil pertandingan ini adalah ketika Pepe dikartu merah wasit Wolfgang Stark setelah melanggar Dani Alves. Ini memaksa Madrid bermain dengan formasi 4-4-1, meninggalkan Adebayor sendiri di depan.

Barcelona makin nyaman dalam penguasaan bola. Memiliki pemain lebih banyak di tengah membuat mereka lebih bebas mengkreasikan serangan. Afellay pun dimasukkan menggantikan Pedro yang bermain tidak efektif. Xavi, yang tidak lagi terkawal dengan ketat, memberikan operan ke Afellay yang kemudian mengecoh Marcello dan membuat assist yang diselesaikan oleh Messi.

Lionel Messi, yang bermain lebih ke dalam, pun akhirnya bisa mengeluarkan magisnya dengan melakukan solo run melewati 4 pemain Madrid dan menceploskan bola ke gawang Casillas, menandakan golnya yang kesebelas dalam sebelas pertandingannya bersama Barcelona di Liga Champion. Jika saja Pepe tidak dikartu merah, paling tidak ada tambahan pemain untuk menghadang laju Messi, di sini lah kalah dalam jumlah pemain “memakan” Madrid.

Mourinho pun diusir oleh wasit karena protesnya atas dikartu merahkannya Pepe. Agak aneh mengapa Mourinho (atau salah satu dari staff pelatihnya) tidak melakukan pergantian pemain. Mourinho memiliki banyak pilihan untuk menyerang di bangku cadangan. Ada Kaka, Benzema, Higuain dan Granero. Kaka atau mungkin Granero bisa dimainkan untuk bermain lebih ke tengah dan meninggalkan sisi kanan kosong, karena Puyol bukan lah ancaman serius dari sisi kiri serangan Barcelona. Alih-alih melakukan pergantian pemain, Mourinho lebih memilih mengandalkan pemain yang sudah ada di lapangan dan menyuruh mereka lebih menekan pemain Barca yang menguasai bola. Itu tidak berguna, Barcelona sudah biasa bermain dengan pressing tinggi dari lawan, dan itu juga bagian dari taktik mereka.

Keita sebagai pengganti Iniesta pun bermain cukup baik. Bukan peran seorang Iniesta yang dia mainkan, melainka peran dirinya sendiri. Bermain lebih taktis dalam menempatkan posisi dan keras dalam merebut bola adalah ciri khas dari seorang Seydou Keita.

Kualitas dari bola mati yang didapatkan Real Madrid juga buruk. C. Ronaldo mendapatkan dua kesempatan tendangan bebas dari depan gawang, tapi tendangannya hanya melayang tinggi di atas mistar gawang Valdes. Umpan Alonso menuju kotak penalti pun sering tidak mengenai sasaran.

Kartu merah terhadap Pepe, yang membuat mereka bermain dengan 10 pemain, secara tidak langsung lebih membebaskan Xavi dan Messi dalam menguasai bola, yang akhirnya dapat memanfaatkan kelebihan pemain dan melesakkan 2 gol tandang krusial ke gawang Real Madrid.

Dua gol tandang ini membuat Barcelona lebih di atas angin dalam menempuh leg kedua semi-final nanti.

Mourinho telah belajar dari kekalahan memalukan 5-0 pada el clasico edisi pertama dengan hasil 0-0 di el clasico kedua, kemudian akhirnya menang di el clasico ketiga dengan skor akhir 1-0, yang mengantar mereka mendapatkan gelar Copa Del Rey, tetapi di el clasico keempat kini berbalik Guardiola yang telah belajar dari pertemuan sebelumnya. Paling tidak, kita tahu bahwa Barcelona memiliki plan B.

Partai el clasico pamungkas musim ini akan menentukan siapa pelatih yang lebih cerdas. Mourinho telah memulai psywar-nya di media dengan mengatakan, “Kami (Real Madrid) telah kalah dan keluar dari kompetisi ini, Mereka (Barcelona) yang akan maju ke babak final.”

Tinggalkan jejak mu dengan berkomentar di sini!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s